PENGARUH
KONSENTRASI NATRIUM BENZOAT TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN
ORGANOLEPTIK SELAI NANAS LEMBARAN SELAMA MASA PENYIMPANAN
Oleh
Taufan Iman Raharjo1, Dyah Koesoemawardani2, dan Samsul Rizal2
ABSTRAK
Salah satu diversifikasi produk buah nanas adalah pembuatan selai
nanas lembaran yang merupakan hasil modifikasi selai semi padat yang
semula hanya dikemas dalam plastik atau botol kini dibentuk menjadi
lembaran-lembaran yang kompak, plastis, dan tidak lengket. Masalah yang
terjadi dalam pembuatan selai nanas lembaran adalah daya simpannya yang
relatif pendek. Penambahan konsentrasi natrium benzoat pada selai
nanas lembaran digunakan untuk menghambat aktivitas mikroba sehingga
dapat memperpanjang masa simpan selai nanas lembaran. Untuk mendapatkan
daya simpan yang optimal tanpa merusak kualitas yang terkandung pada
selai nanas lembaran maka diperlukan penambahan konsentrasi natrium
benzoat yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
konsentrasi natrium benzoat yang dapat menghasilkan selai nanas
lembaran dengan sifat kimia, mikrobiologi, dan organoleptik terbaik
selama penyimpanan.
Penelitian ini menggunakan perlakuan faktorial dalam rancangan acak
kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor
pertama adalah konsentrasi natrium benzoat (K) terdiri dari empat taraf
yaitu: 0% (K0), 0,03% (K1), 0,06% (K2), dan 0,09% (K3) (b/b),
sedangkan faktor kedua adalah lama penyimpanan (M) selama 0 minggu
(M0), 2 minggu (M1), dan 4 minggu (M2). Data yang diperoleh dianalisis
dengan sidik ragam. Kesamaan ragam menggunakan uji Bartlett,
kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey dan analisis dilanjutkan
dengan uji polinomial ortogonal pada taraf 1% atau 5%.
Sampai dengan lama penyimpanan 4 minggu maka penambahan konsentrasi
natrium benzoat yang relatif terbaik adalah 0,09% dengan
karakteristik pH 3,25, total padatan terlarut 73,33%, kadar air 29,99%,
total kapang 2,4×102 CFU/g, warna 2,69 (kuning kecoklatan), rasa 2,67
(manis), aroma 2,75 (khas nanas), tekstur 2,91 (plastis) dan
penerimaan keseluruhan 2,88 (suka).
Selasa, 17 Juli 2012
FORMULASI JAHE MERAH, KUNYIT, DAN TEMULAWAK PADA PEMBUATAN HERBAL CELUP SEBAGAI MINUMAN SUMBER ANTIOKSIDAN
Oleh
Helta Yolanda1, Samsu Udayana N2, dan A Sapta Zuidar2
ABSTRAK
Berbagai jenis rempah-rempah sudah lama diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Jahe merah, kunyit, dan temu lawak merupakan contoh herbal yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan baik secara in vitro maupun in vivo. Secara tradisional rempah-rempah ini telah digunakan sebagai bahan baku minuman atau bumbu masak. Pembuatan herbal celup merupakan salah satu alternatif pengolahan dari rempah-rempah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi herbal celup dari jahe merah merah, temu lawak, dan kunyit yang menghasilkan minuman dengan aktivitas antioksidan yang tinggi dan disukai konsumen.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama bertujuan untuk menentukan formula minuman herbal yang paling disukai berdasarkan uji organoleptik. Tahap kedua dilakukan pengamatan yang bertujuan untuk menentukan total senyawa polifenol dan aktivitas antioksidan minuman herbal yang paling disukai pada tahap pertama. Perlakuan terdiri dari kombinasi antara jahe merah , kunyit, dan temu lawak kering, dengan F1, F2, dan F3 sebagai kontrol. Perlakuan F4, F5, F6, F7, F8, F9 dan F10 untuk penelitian tahap pertama dan F4, F5, dan F10 untuk penelitian tahap kedua disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh selanjutnya akan diuji kesamaan ragamnya dengan uji Bartlet, kemenambahan data diuji dengan uji Tukey, serta analisis ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat. Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% dan 5%.
Hasil penelitian menunjukan perlakuan formulasi minuman herbal celup terbaik adalah formulasi F4 (1 g jahe merah, 0,5g kunyit). Perlakuan F4 menghasilkan total fenol 1,29 (%TAE), dan aktivitas antioksidan 51,66 % RSA.
Oleh
Helta Yolanda1, Samsu Udayana N2, dan A Sapta Zuidar2
ABSTRAK
Berbagai jenis rempah-rempah sudah lama diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Jahe merah, kunyit, dan temu lawak merupakan contoh herbal yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan baik secara in vitro maupun in vivo. Secara tradisional rempah-rempah ini telah digunakan sebagai bahan baku minuman atau bumbu masak. Pembuatan herbal celup merupakan salah satu alternatif pengolahan dari rempah-rempah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi herbal celup dari jahe merah merah, temu lawak, dan kunyit yang menghasilkan minuman dengan aktivitas antioksidan yang tinggi dan disukai konsumen.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama bertujuan untuk menentukan formula minuman herbal yang paling disukai berdasarkan uji organoleptik. Tahap kedua dilakukan pengamatan yang bertujuan untuk menentukan total senyawa polifenol dan aktivitas antioksidan minuman herbal yang paling disukai pada tahap pertama. Perlakuan terdiri dari kombinasi antara jahe merah , kunyit, dan temu lawak kering, dengan F1, F2, dan F3 sebagai kontrol. Perlakuan F4, F5, F6, F7, F8, F9 dan F10 untuk penelitian tahap pertama dan F4, F5, dan F10 untuk penelitian tahap kedua disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh selanjutnya akan diuji kesamaan ragamnya dengan uji Bartlet, kemenambahan data diuji dengan uji Tukey, serta analisis ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat. Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% dan 5%.
Hasil penelitian menunjukan perlakuan formulasi minuman herbal celup terbaik adalah formulasi F4 (1 g jahe merah, 0,5g kunyit). Perlakuan F4 menghasilkan total fenol 1,29 (%TAE), dan aktivitas antioksidan 51,66 % RSA.
PENGARUH MASING-MASING KONSENTRASI BUBUK BAWANG PUTIH DAN BUBUK LENGKUAS TERHADAP MUTU TAHU SELAMA PERENDAMAN
PENGARUH MASING-MASING KONSENTRASI BUBUK BAWANG PUTIH DAN BUBUK LENGKUAS TERHADAP MUTU TAHU SELAMA PERENDAMAN
Oleh
ABSTRAK
Tahu merupakan bahan makanan sumber protein nabati dengan masa simpan yang rendah karena adanya kerusakan oleh mikroorganisme. Penyimpanan tahu lebih dari 2 hari akan mengakibatkan tahu berasa asam dan berangsur-angsur membusuk dan tidak layak lagi dikonsumsi sehingga diperlukan suatu bahan pengawet yang dapat mempertahankan masa simpan tahu. Salah satu bahan pangan yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan alternatif dan alami yaitu bubuk bawang putih atau bubuk lengkuas karena mengandung minyak atsiri dan senyawa fenolik lainnya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi bubuk bawang putih, bubuk lengkuas selama perendaman terhadap mutu tahu.
Penelitian ini menggunakan perlakuan faktorial dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi bubuk bawang putih atau bubuk lengkuas yang terdiri 5 taraf yaitu : 0% (K0), 2% (K1), 4% (K2), 6%(K3), 8% (K4), sedangkan faktor kedua adalah lama perendaman selama 0 (T0), 2 (T1), 4 (T2), 6 (T3) hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Kesamaam ragam menggunakan uji Barlett, kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey dan dianalisis dengan uji polinomial ortogonal.
Hasil penelitan menunjukkan bahwa konsentrasi bubuk bawang putih, atau bubuk lengkuas yang optimal untuk digunakan sebagai pengawet tahu adalah untuk keduanya 6% dan 8% dengan masa simpan tahu 4 hari dengan sifat organoleptik secara umum untuk keduanya warna agak putih, rasa tahu agak segar dan bau tahu agak segar putih. Pada tahu dengan konsentrasi bubuk bawang putih 6% memiliki total mikroba 7,6×108 CFU/g, kadar abu 1,44%, pH 4,76, total koliform 5,0 x 1106 sel/g pada konsentrasi bubuk bawang putih 8% memiliki total mikroba 1,0×108 CFU/g , total koliform 1,6×106 sel/g, kadar abu 1,51%, pH 5,15. Pada konsentrasi bubuk lengkuas 6% memiliki total mikroba 9,5×107 CFU/g, total koliform 7,6 x 106 sel/g, kadar abu 1,6%, pH 4,76 sedangkan pada konsentrasi bubuk lengkuas 8% memiliki total mikroba 1,7×10 7 CFU/g, total koliform 5,8 x 106 sel/g, kadar abu 2,25%, pH 5,15. Total koliform baik yang direndam dengan bubuk bawang putih maupun bubuk lengkuas cukup tinggi karena sebelum diberi perlakuan pada tahu sudah terdapat koliform tetapi penambahan bubuk bawang putih maupun bubuk lengkuas dapat menghambat pertumbuhan koliform.
Oleh
ABSTRAK
Tahu merupakan bahan makanan sumber protein nabati dengan masa simpan yang rendah karena adanya kerusakan oleh mikroorganisme. Penyimpanan tahu lebih dari 2 hari akan mengakibatkan tahu berasa asam dan berangsur-angsur membusuk dan tidak layak lagi dikonsumsi sehingga diperlukan suatu bahan pengawet yang dapat mempertahankan masa simpan tahu. Salah satu bahan pangan yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan alternatif dan alami yaitu bubuk bawang putih atau bubuk lengkuas karena mengandung minyak atsiri dan senyawa fenolik lainnya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi bubuk bawang putih, bubuk lengkuas selama perendaman terhadap mutu tahu.
Penelitian ini menggunakan perlakuan faktorial dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi bubuk bawang putih atau bubuk lengkuas yang terdiri 5 taraf yaitu : 0% (K0), 2% (K1), 4% (K2), 6%(K3), 8% (K4), sedangkan faktor kedua adalah lama perendaman selama 0 (T0), 2 (T1), 4 (T2), 6 (T3) hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Kesamaam ragam menggunakan uji Barlett, kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey dan dianalisis dengan uji polinomial ortogonal.
Hasil penelitan menunjukkan bahwa konsentrasi bubuk bawang putih, atau bubuk lengkuas yang optimal untuk digunakan sebagai pengawet tahu adalah untuk keduanya 6% dan 8% dengan masa simpan tahu 4 hari dengan sifat organoleptik secara umum untuk keduanya warna agak putih, rasa tahu agak segar dan bau tahu agak segar putih. Pada tahu dengan konsentrasi bubuk bawang putih 6% memiliki total mikroba 7,6×108 CFU/g, kadar abu 1,44%, pH 4,76, total koliform 5,0 x 1106 sel/g pada konsentrasi bubuk bawang putih 8% memiliki total mikroba 1,0×108 CFU/g , total koliform 1,6×106 sel/g, kadar abu 1,51%, pH 5,15. Pada konsentrasi bubuk lengkuas 6% memiliki total mikroba 9,5×107 CFU/g, total koliform 7,6 x 106 sel/g, kadar abu 1,6%, pH 4,76 sedangkan pada konsentrasi bubuk lengkuas 8% memiliki total mikroba 1,7×10 7 CFU/g, total koliform 5,8 x 106 sel/g, kadar abu 2,25%, pH 5,15. Total koliform baik yang direndam dengan bubuk bawang putih maupun bubuk lengkuas cukup tinggi karena sebelum diberi perlakuan pada tahu sudah terdapat koliform tetapi penambahan bubuk bawang putih maupun bubuk lengkuas dapat menghambat pertumbuhan koliform.
PENGARUH KONSENTRASI CHITOSAN SEBAGAI BAHAN PENGAWET TERHADAP MASA SIMPAN MIE BASAH
PENGARUH KONSENTRASI CHITOSAN SEBAGAI BAHAN PENGAWET TERHADAP MASA SIMPAN MIE BASAH
ABSTRAK
Mie basah merupakan jenis mie yang mengalami proses perebusan setelah tahap pemotongan dan sebelum dipasarkan. Biasanya mie basah dipasarkan dalam keadaan segar. Mie basah merupakan produk makanan dengan kadar air yang tergolong tinggi yakni mencapai 52 %. Masa simpan mie basah dalam kondisi normal penyimpanan hanya bisa bertahan 16 jam. Supaya mendapatkan mie basah yang memiliki masa simpan lebih lama serta mutu yang dapat dipertahankan diperlukan suatu bahan pengawet yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia serta dapat mempertahankan aspek gizi yang terkandung di dalamnya.
Salah satu bahan pengawet alami yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan alternatif ialah chitosan. Chitosan merupakan suatu polimer rantai panjang glukosamin yang mempunyai struktur molekul 2-amino-2-deoksi glukosa. Chitosan bersifat alami sehingga chitosan tidak beracun dan tidak mempunyai efek samping bila dikonsumsi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi chitosan yang optimal sebagai bahan pengawet yang dapat memperpanjang masa simpan mie basah.
Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap. Penelitian tahap1 yaitu mencari konsentrasi dan lama penyimpanan mie basah terbaik. Perlakuan disusun secara faktorial 2 faktor dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi chitosan (K) yang terdiri atas lima taraf yaitu, K0 (0 ppm), K1 (50 ppm), K2 (100 ppm), K3 (150 ppm), K4 (200 ppm). Faktor kedua adalah lama penyimpanan mie basah (H) pada suhu kamar dengan empat taraf yaitu 0 jam (H0), 24 jam (H1), 48 jam (H2) dan 72 jam (H3). Kesamaan ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Kemudian data dianalisis dengan sidik ragam untuk menduga ragam galat dan uji signifikansi mengenai ada tidaknya perbedaan antar perlakuan. Data kemudian dianalisis lebih lanjut dengan polinomial ortogonal pada taraf 1% dan 5%. Penelitian tahap 2 yaitu membandingkan mie basah yang diberi konsentrasi chitosan terbaik yang diperoleh dari penelitian tahap 1 yaitu sebanyak 150 ppm dengan mie basah yang diberi formalin pada konsentrasi yang sama dengan lama penyimpanan 0, 24, 48 dan 72 jam. Data yang diperoleh pada tahap ini dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi chitosan yang optimal untuk digunakan sebagai bahan pengawet mie basah ialah sebesar 150 ppm (b/b) dengan masa simpan 24 jam. Chitosan memiliki kemampuan memperpanjang masa simpan mie basah yang hampir menyamai formalin pada konsentrasi 150 ppm dengan masa simpan hanya 24 jam.
ABSTRAK
Mie basah merupakan jenis mie yang mengalami proses perebusan setelah tahap pemotongan dan sebelum dipasarkan. Biasanya mie basah dipasarkan dalam keadaan segar. Mie basah merupakan produk makanan dengan kadar air yang tergolong tinggi yakni mencapai 52 %. Masa simpan mie basah dalam kondisi normal penyimpanan hanya bisa bertahan 16 jam. Supaya mendapatkan mie basah yang memiliki masa simpan lebih lama serta mutu yang dapat dipertahankan diperlukan suatu bahan pengawet yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia serta dapat mempertahankan aspek gizi yang terkandung di dalamnya.
Salah satu bahan pengawet alami yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan alternatif ialah chitosan. Chitosan merupakan suatu polimer rantai panjang glukosamin yang mempunyai struktur molekul 2-amino-2-deoksi glukosa. Chitosan bersifat alami sehingga chitosan tidak beracun dan tidak mempunyai efek samping bila dikonsumsi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi chitosan yang optimal sebagai bahan pengawet yang dapat memperpanjang masa simpan mie basah.
Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap. Penelitian tahap1 yaitu mencari konsentrasi dan lama penyimpanan mie basah terbaik. Perlakuan disusun secara faktorial 2 faktor dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi chitosan (K) yang terdiri atas lima taraf yaitu, K0 (0 ppm), K1 (50 ppm), K2 (100 ppm), K3 (150 ppm), K4 (200 ppm). Faktor kedua adalah lama penyimpanan mie basah (H) pada suhu kamar dengan empat taraf yaitu 0 jam (H0), 24 jam (H1), 48 jam (H2) dan 72 jam (H3). Kesamaan ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Kemudian data dianalisis dengan sidik ragam untuk menduga ragam galat dan uji signifikansi mengenai ada tidaknya perbedaan antar perlakuan. Data kemudian dianalisis lebih lanjut dengan polinomial ortogonal pada taraf 1% dan 5%. Penelitian tahap 2 yaitu membandingkan mie basah yang diberi konsentrasi chitosan terbaik yang diperoleh dari penelitian tahap 1 yaitu sebanyak 150 ppm dengan mie basah yang diberi formalin pada konsentrasi yang sama dengan lama penyimpanan 0, 24, 48 dan 72 jam. Data yang diperoleh pada tahap ini dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi chitosan yang optimal untuk digunakan sebagai bahan pengawet mie basah ialah sebesar 150 ppm (b/b) dengan masa simpan 24 jam. Chitosan memiliki kemampuan memperpanjang masa simpan mie basah yang hampir menyamai formalin pada konsentrasi 150 ppm dengan masa simpan hanya 24 jam.
Sabtu, 14 Juli 2012
dokter indonesia yg mendunia
Sampai
saat ini, Indonesia masih sangat kekurangan dokter ahli bedah. Dengan
jumlah penduduk 240 juta jiwa, dokter ahli bedah yang dimiliki baru 120
orang atau rasionya 1 : 2 juta. Artinya, satu orang dokter bedah harus
melayani 2 juta penduduk.
Dari jumlah yang sedikit itu, Prof dr Eka Julianta Wahyoepramono adalah salah satunya. Spesialisasinya pada ahli bedah syaraf (neurosurgeon), khususnya bedah batang otak, tentu saja membuat dr Eka Julianto makin menjadi orang dengan profesi yang langka di negeri ini.
Sebagai ahli bedah syaraf, nama dr Eka Julianta tak diragukan lagi. Reputasinya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi sudah mendunia. Misalnya, dia adalah visiting professor di Harvard
University Medical School. Prestasi ini sampai saat ini belum bisa disamai oleh dokter-dokter Indonesia lainnya.
Alasan seperti itulah yang membuat Pitan Daslani kemudian menuliskan biografi dr Eka Julianta. Pada Kamis (25/2/2010) siang, buku yang diberi judul Tinta Emas di Kanvas Dunia itu diluncurkan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur.
Kenapa diberi judul "Tinta Emas"? Bukankah sebagai dokter bedah mestinya dr Eka biasa memegang pisau dan peralatan-peralatan bedah lainnya? Rupanya Pitan punya alasan sendiri. "Dokter Eka telah menorehkan tinta emas dalam sejarah kedokteran, ketika untuk pertama kalinya dokter Indonesia dijadikan sebagai referensi bagi dokter dan mahasiswa kedokteran di seluruh dunia," katanya.
Dr Eka Julianta Wahjoepramono adalah satu-satunya dokter yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia.
Ia tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien. Sukses ini juga yang melambungkan namanya ke kancah internasional, dan disegani dokter-dokter bedah saraf dunia.
"Saat ini juga, Dokter Eka saya nyatakan dicatatkan di rekor Muri, karena prestasinya berhasil membedah batang otak," ujar pendiri Muri Jaya Suprana saat peluncuran buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (25/2).
Menurut Jaya Suprana, yang juga pemilik perusahaan Jamu Jago Indonesia, prestasi Dr Eka luar biasa. "Sepengetahuan saya, batang otak tidak boleh diutak-atik. Tabu. Saking tabunya, batang otak disebut urusan Tuhan. kalau Dokter Eka menjadi bisa mengutak-atik batang otak, berardi anda ini sudah bagian dari Tuhan," kata Jaya, yang dikenal sebagai pemusik dan suka melawak.
Penulis Buki Tinta Emas di Kanvas Dunia , Pitan Daslani mengatakan, sudah mengecek se-Asia, sejauh ini, baru Dr Eka yang pertama dan berhasil membedah batang otak.
Prestasi membedah otak berawal 20 Februari 2001. Ketika itu, Ardiansyah, warga Merak, Banten, datang dalam kondisi kritis. Buruh nelayan berusia sektiar 20 tahun itu datang dalam kondisi saraf-saraf lumpuh, kaki dan tangan lumpuh, mata pun melotot, napas tersengal-sengal. Setelah didiagnosa, Ardiansyah ini terkena tumor kavernoma yang telah pecah di pons atau batang otak.
"Saat itu, dunia termasuk dokter bedah saraf pun belum berani mengutak-atik batang otak. Karena kalau salah sedikit, pasti mati atau lumpuh. Tapi karena pilihannya mati atau hidup, saya beranikan diri membedah batang otak Pak Ardiansyah ini," ujar Dr Eka sambil menunjuk Ardiansyah yang berdiri di sampingnya.
Ardiansyah soerang yatim piatu. Saat itu dia datang diantar seorang kakaknya. Dalam peluncuran buku kemarin, ia juga memberi kesaksian. "Saya sudah pasrah, karena sakitnya. Alhamdulillah, dokter Eka ini dapat merawat. Saya ucapkan terima kasih," ujar Ardiansyah.
Selain Ardiansyah, ada lagi pasien miskin, Jumiati. Mahmud, suaminya, kepala sekolah swasta di Cengkareng, Jakarta Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, Mahmud bekerja sambilan sebagai pemulung sampah. Operasi Ardiansyah dan Jumiati dilayani Dr Eka secara cuma-cuma di RS Siloam.
Bedah buku dipandu presenter Kick Andi, Andi F Noyo dengan pembicara Dr Eka, pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri) Jaya Suprana, dan penulis buku Pitan Daslani. Sejumlah pasien yang berhasil diselamatkan hadir dan memberi kesaksian, keluarga mantan pasien yang gagal operasi dan meninggal pun tetap memuji karya dokter Eka.
Pasien lainnya, anggota TNI Angkatan Udara Kolonel Budi Laksono, mengatakan kesalutannya akan keberhasilan Dr Eka memulihkan kondisi kesehatannya dari serangan stroke. "Saya sudah 10 tahun menderita stroke. Dulu saya pilot TNI AU untuk pesawat Falcon-15 (F-15) dan F-16, dan Hercules. Walau tidak bisa lagi bermain-main di udara, saya bersyukur karena bisa karena bisa aktif di TNI AU sebai staf," ujar Budi.
Pujian lainnya dikemukakan Ny Lana Sarwono, janda Sarwono gagal saat mengalami operasi kedua kali. "Semula, saya mengalami pergulatan batin, mengapa Dokter Eka gagal menyelamatkan suami saya. Tetapi akhirnya saya dapat menerima, inilah takdir dari Tuhan dan saya mengikhlaskan suami saya pergi," kata Lana, sebelum menerima buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia.
Lana melanjutkan, di balik kegagalan operasi otak suaminya, masih ada hikmah. Lana menandaskan, "Saya berharap kiranya Dokter Eka dapat menyelamatkan lebih banyak, ratusan bahkan ribuan orang penderita otak."
2. Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D.,

Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) menerima penghargaan internasional sebagai dokter spesialis anak terbaik dari Asosiasi Dokter Anak Asia-Pasifik atau APPA. Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award tersebut diterimanya akibat prestasi-prestasinya yang dianggap menonjol dalam penelitian mengenai penyakit diare pada anak selama tiga tahun terakhir. Penghargaan diberikan dalam konferensi APPA di Shanghai, China, yang berlangsung pada tanggal 4 – 18 Oktober 2009.
Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award sendiri diberikan setiap tiga tahun sekali. Pada tahun ini, Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D. menjadi salah satu dari 12 dokter anak yang menerima penghargaan. Dan mereka pun telah dipilih dari 2.500 dokter anak se-Asia Pasifik.
Penghargaan tersebut merupakan buah dari perjuangannya selama 40 tahun dalam meneliti penyakit diare pada anak. Bersama Prof. Ruth Bishop dari Australia, ia meneliti infeksi yang disebabkan oleh rotavirus pada penderita diare di Indonesia. Penelitian ini menemukan hasil yang mengejutkan bahwa ternyata rotavirus lah yang menjadi penyebab utama penyakit diare di Indonesia.
Ia mengatakan sebagian besar bayi penderita diare yang disebabkan rotavirus memiliki kualitas hidup yang rendah. Bayi mengalami muntah secara terus-menerus, berak air, dan susah mengonsumsi makanan. Usus halusnya pun tak dapat berfungsi dengan baik.
Hasil penelitian tersebut pada akhirnya mengubah terapi pengobatan
Penemuan ini mengubah terapi pengobatan diare yang sebelumnya lebih banyak menggunakan antibiotik. Hasil penemuan tersebut pada akhirnya mendorong Pemerintah Indonesia untuk memproduksi vaksin rotavirus dengan harga yang cukup murah. Sebab, vaksin diare yang ada selama ini relatif mahal. Bekerja sama dengan Melbourne University dan PT Biofarma, vaksin tersebut direncanakan akan dipasarkan mulai tahun 2012 di Indonesia.
Dari jumlah yang sedikit itu, Prof dr Eka Julianta Wahyoepramono adalah salah satunya. Spesialisasinya pada ahli bedah syaraf (neurosurgeon), khususnya bedah batang otak, tentu saja membuat dr Eka Julianto makin menjadi orang dengan profesi yang langka di negeri ini.
Sebagai ahli bedah syaraf, nama dr Eka Julianta tak diragukan lagi. Reputasinya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi sudah mendunia. Misalnya, dia adalah visiting professor di Harvard
University Medical School. Prestasi ini sampai saat ini belum bisa disamai oleh dokter-dokter Indonesia lainnya.
Alasan seperti itulah yang membuat Pitan Daslani kemudian menuliskan biografi dr Eka Julianta. Pada Kamis (25/2/2010) siang, buku yang diberi judul Tinta Emas di Kanvas Dunia itu diluncurkan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur.
Kenapa diberi judul "Tinta Emas"? Bukankah sebagai dokter bedah mestinya dr Eka biasa memegang pisau dan peralatan-peralatan bedah lainnya? Rupanya Pitan punya alasan sendiri. "Dokter Eka telah menorehkan tinta emas dalam sejarah kedokteran, ketika untuk pertama kalinya dokter Indonesia dijadikan sebagai referensi bagi dokter dan mahasiswa kedokteran di seluruh dunia," katanya.
Dr Eka Julianta Wahjoepramono adalah satu-satunya dokter yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia.
Ia tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien. Sukses ini juga yang melambungkan namanya ke kancah internasional, dan disegani dokter-dokter bedah saraf dunia.
"Saat ini juga, Dokter Eka saya nyatakan dicatatkan di rekor Muri, karena prestasinya berhasil membedah batang otak," ujar pendiri Muri Jaya Suprana saat peluncuran buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (25/2).
Menurut Jaya Suprana, yang juga pemilik perusahaan Jamu Jago Indonesia, prestasi Dr Eka luar biasa. "Sepengetahuan saya, batang otak tidak boleh diutak-atik. Tabu. Saking tabunya, batang otak disebut urusan Tuhan. kalau Dokter Eka menjadi bisa mengutak-atik batang otak, berardi anda ini sudah bagian dari Tuhan," kata Jaya, yang dikenal sebagai pemusik dan suka melawak.
Penulis Buki Tinta Emas di Kanvas Dunia , Pitan Daslani mengatakan, sudah mengecek se-Asia, sejauh ini, baru Dr Eka yang pertama dan berhasil membedah batang otak.
Prestasi membedah otak berawal 20 Februari 2001. Ketika itu, Ardiansyah, warga Merak, Banten, datang dalam kondisi kritis. Buruh nelayan berusia sektiar 20 tahun itu datang dalam kondisi saraf-saraf lumpuh, kaki dan tangan lumpuh, mata pun melotot, napas tersengal-sengal. Setelah didiagnosa, Ardiansyah ini terkena tumor kavernoma yang telah pecah di pons atau batang otak.
"Saat itu, dunia termasuk dokter bedah saraf pun belum berani mengutak-atik batang otak. Karena kalau salah sedikit, pasti mati atau lumpuh. Tapi karena pilihannya mati atau hidup, saya beranikan diri membedah batang otak Pak Ardiansyah ini," ujar Dr Eka sambil menunjuk Ardiansyah yang berdiri di sampingnya.
Ardiansyah soerang yatim piatu. Saat itu dia datang diantar seorang kakaknya. Dalam peluncuran buku kemarin, ia juga memberi kesaksian. "Saya sudah pasrah, karena sakitnya. Alhamdulillah, dokter Eka ini dapat merawat. Saya ucapkan terima kasih," ujar Ardiansyah.
Selain Ardiansyah, ada lagi pasien miskin, Jumiati. Mahmud, suaminya, kepala sekolah swasta di Cengkareng, Jakarta Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, Mahmud bekerja sambilan sebagai pemulung sampah. Operasi Ardiansyah dan Jumiati dilayani Dr Eka secara cuma-cuma di RS Siloam.
Bedah buku dipandu presenter Kick Andi, Andi F Noyo dengan pembicara Dr Eka, pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri) Jaya Suprana, dan penulis buku Pitan Daslani. Sejumlah pasien yang berhasil diselamatkan hadir dan memberi kesaksian, keluarga mantan pasien yang gagal operasi dan meninggal pun tetap memuji karya dokter Eka.
Pasien lainnya, anggota TNI Angkatan Udara Kolonel Budi Laksono, mengatakan kesalutannya akan keberhasilan Dr Eka memulihkan kondisi kesehatannya dari serangan stroke. "Saya sudah 10 tahun menderita stroke. Dulu saya pilot TNI AU untuk pesawat Falcon-15 (F-15) dan F-16, dan Hercules. Walau tidak bisa lagi bermain-main di udara, saya bersyukur karena bisa karena bisa aktif di TNI AU sebai staf," ujar Budi.
Pujian lainnya dikemukakan Ny Lana Sarwono, janda Sarwono gagal saat mengalami operasi kedua kali. "Semula, saya mengalami pergulatan batin, mengapa Dokter Eka gagal menyelamatkan suami saya. Tetapi akhirnya saya dapat menerima, inilah takdir dari Tuhan dan saya mengikhlaskan suami saya pergi," kata Lana, sebelum menerima buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia.
Lana melanjutkan, di balik kegagalan operasi otak suaminya, masih ada hikmah. Lana menandaskan, "Saya berharap kiranya Dokter Eka dapat menyelamatkan lebih banyak, ratusan bahkan ribuan orang penderita otak."
2. Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D.,
Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) menerima penghargaan internasional sebagai dokter spesialis anak terbaik dari Asosiasi Dokter Anak Asia-Pasifik atau APPA. Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award tersebut diterimanya akibat prestasi-prestasinya yang dianggap menonjol dalam penelitian mengenai penyakit diare pada anak selama tiga tahun terakhir. Penghargaan diberikan dalam konferensi APPA di Shanghai, China, yang berlangsung pada tanggal 4 – 18 Oktober 2009.
Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award sendiri diberikan setiap tiga tahun sekali. Pada tahun ini, Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D. menjadi salah satu dari 12 dokter anak yang menerima penghargaan. Dan mereka pun telah dipilih dari 2.500 dokter anak se-Asia Pasifik.
Penghargaan tersebut merupakan buah dari perjuangannya selama 40 tahun dalam meneliti penyakit diare pada anak. Bersama Prof. Ruth Bishop dari Australia, ia meneliti infeksi yang disebabkan oleh rotavirus pada penderita diare di Indonesia. Penelitian ini menemukan hasil yang mengejutkan bahwa ternyata rotavirus lah yang menjadi penyebab utama penyakit diare di Indonesia.
Ia mengatakan sebagian besar bayi penderita diare yang disebabkan rotavirus memiliki kualitas hidup yang rendah. Bayi mengalami muntah secara terus-menerus, berak air, dan susah mengonsumsi makanan. Usus halusnya pun tak dapat berfungsi dengan baik.
Hasil penelitian tersebut pada akhirnya mengubah terapi pengobatan
Penemuan ini mengubah terapi pengobatan diare yang sebelumnya lebih banyak menggunakan antibiotik. Hasil penemuan tersebut pada akhirnya mendorong Pemerintah Indonesia untuk memproduksi vaksin rotavirus dengan harga yang cukup murah. Sebab, vaksin diare yang ada selama ini relatif mahal. Bekerja sama dengan Melbourne University dan PT Biofarma, vaksin tersebut direncanakan akan dipasarkan mulai tahun 2012 di Indonesia.
Indonesia Di Jajah Selama 3.5 Abad Karena Sebuah Buku
Tahukah Anda bahwa karena sebuah bukulah maka bangsa Belanda bisa sampai di Nusantara dan melakukan penjajahan atas bumi yang kaya raya ini selama berabad-abad? Buku tersebut berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien , yang ditulis Jan Huygen van Linshoten di tahun 1595.
Inilah kisahnya:
Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.
Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah.
Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya.
Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru—kini disebut Benua Amerika—kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda.
Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.
Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.
Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.
Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.
Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.
Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945.
10 kota hilang paling terkenal
10 Kota Hilang Paling Terkenal
Sebuah
kota akan menjadi kota hilang saat ditinggalkan oleh penduduknya dan
dibiarkan begitu saja, sehingga meninggalkan banyak peradaban yang
kemudian hilang begitu saja. Hal ini bisa terjadi karena perang, bencana
alam, dan masih banyak lagi sebab-sebab lain. Namun seiring dengan
perkembangan zaman, legenda kota hilang itu mulai muncul kembali ke
permukaan. Banyak para ahli yang kemudian menemukan
reruntuhan-reruntuhan bekas kota. sehingga kemudian mula banyak muncul
legenda kota yang hilang.
Terlepas
dari mitos kenyataan, disini saya akan memamparkan 10 kota hilang yang
paling terkenal, memang sih di dunia ini sebenarnya ada banyak kota
hilang, tapi menurut saya 10 daftar kota hilang yang saya paparkan ini
adalah yang paling terkenal dan banyak menyedot perhatian publik.
Berikut adalah daftar 10 kota hilang paling terkenal :
10. Atlantis
Atlantis
digambarkan oleh Plato sebagai peradaban maju dan kekuatan laut yang
tangguh, Atlantis dikatakan telah menaklukkan sebagian besar wilayah
Eropa sebelum tenggelam ke laut. Menurut mitos tradisional, kota ini
tenggelam kerana murka para dewa atas kelakuan para penghuni kota ini,
tapi menurut penelitian Ilmiah, kota ini mungkin tenggelam karena gejala
geologis.

9. The City of Caesars
9. The City of Caesars
Juga
dikenal sebagai Kota Berkelana dan Kota Patagonia, The City of Caesars
adalah kota mitos yang diyakini terletak di ujung selatan Amerika
Selatan. Kota ini belum pernah ditemukan, dan pada saat ini dianggap
legenda.

8. Troy
8. Troy
Troy
adalah kota legendaris yang terletak di Turki modern. Troy sudah lama
dianggap oleh banyak orang sebagai mitos biasa, sampai akhirnya digali
pada 1870-an. Dan kemudian Ditemukan banyak reruntuhan reruntuhan
bangunan yang dianggap sebagai arsitektur modern di jamanya.

7. The Lost city of Z
7. The Lost city of Z
The
lost city of Z adalah peradaban hilang yang terletak jauh di pedalaman
hutan Brazil (hutan Amazon). Kota hilang ini dikatakan sebagai peradaban
maju dengan jaringan canggih dari jembatan, jalan, dan kuil-kuil. Hal
ini dibuktikan dengan ditemukan banyak peninggalan alat-alat canggih di
pedalaman hutan amazon.

6. Petra
6. Petra
Petra
dianggap sebagai kota paling indah dari semua kota pada daftar ini,
Petra terletak di Jordon. Ciri yang paling menonjol adalah arsitektur
indah batu, yang diukir dari batuan pegunungan di sekitarnya yang mulai
dieksplorasi sejak abad 18, hingga kini, keindahan arsitektur bangunan
batu petra masih tetap bisa kalian nikmati jika kalian berlibur ke
Jordania.

5. El Dorado
5. El Dorado
Inilah
kota hilang yang paling dicari, karena kota ini dikenal sebagai kota
emas. Diperkirakan banyak sekali emas yang ada di kota ini. El Dorado
adalah sebuah kerajaan mistis konon ditemukan di hutan Amerika Selatan.
Kota ini dikatakan dipimpin oleh seorang raja yang kuat dan dengan
kekayaan emas yang tak terhingga.

4. Memphis
4. Memphis
Didirikan
pada tahun 3100 SM, Memphis adalah ibu kota Mesir kuno, dan menjadi
pusat administrasi peradaban yang selama ratusan tahun sebelum akhirnya
ditinggalkan oleh penduduknya seiring dengan munculnya Thebes dan
Alexandria. Di bekas wilayah kota ini, banyak ditemukan reruntuhan
bangunan-bangunan mesir kuno.

3. Angkor
3. Angkor
Daerah
Angkor di Kamboja dan sekitarnya dikenal sebagai salah satu pusat
industri di asia bahkan dunia, dan salah satu peninggalan paling
terkenal adalah kuil Angkor Wat yang umumnya dianggap sebagai monumen
keagamaan.

2. Pompeii
2. Pompeii
Kota
Romawi Pompeii hancur dalam AD 79 setelah Gunung Vesuvius meletus di
dekatnya dan mengubur seluruh komunitas di bawah 60 kaki abu dan batu.
Kota ini diperkirakan memiliki sekitar 20.000 penduduk pada saat itu,
dan itu dianggap sebagai salah satu tempat liburan utama untuk kelas
atas masyarakat Roma.

1. Machu Pichu
Kota
ini terletak di dekat Lembah Urubamba di Peru, kota ini pernah
ditemukan dan dijarah oleh conquistador, Machu pichu menyimpan banyak
peninggalan reruntuhan kuno yang sering disebut sebagai kuil machu
pichu. Arsitektur bangunan yang sangat indah pada kuil machu pichu
membuktikan betapa tingginya peradaban machu pichu saat masa jayanya.1. Machu Pichu
Langganan:
Postingan (Atom)